Mencegah Covid-19: Tanggungjawab Bersama




Oleh: Yosef Biweng

Fafruar - Selama Pandemik ini, telah memberikan dampak yang luar biasa. Hampir sebagian bumi terkena dampak Covid-19 dalam berbagai sektor, termasuk Indonesia.  Indonesia masuk dalam sepuluh besar dalam data pasien Covid-19 terbanyak. Dampak dari pandemik ini masyarakat mulai mengalami krisis ekonomi pangan. Tidak hanya itu pengusaha pun mengalami penurunan penghasilan. Beberapa usaha kecil, menengah telah guling tikar. Dan perusahaan juga terpaksa merumahkan karyawannya akibat tidak sanggup membayar upah karyawannya. Banyaknya pemutusan hubungan kerja kepada karyawan swasta, dan meningkatnya pengangguran.

Penyebaran Covid-19 melaju seakan tak pilih kasih. Covid-19 menyerang manusia seakan si jago merah melalap rumah hingga tinggal puing-puing arang kayu.  Covid-19 menelan banyak korban, dari perbagai lapisan masyarakat. Semakin hari bertambah banyak pasien positif. Kini sudah mencapai seribuh jiwa yang meninggal, dan belum ada trend penurunan.
Pemerintah menghimbau warga masyarakat melakukan jaga jarak sosial sekitar 1-2 meter, gunakan masker, tinggal di rumah, kerja di rumah,  jangan bersalaman,  jangan menyetuh mata, hidung dan mulut, cuci tangan dengan air mengalir sekitar dua puluh menit. Inilah upaya yang ditawarkan oleh pemerintah untuk menghambat dan menghentikan penyebaran Covid-19. Namun imbauan dari pemerintah kurang direspon dengan baik,  masih saja masyarakat yang seenaknya beraktivitas tanpa jaga jarak sosial dan menggunakan masker seakan tidak ada hal yang mencemaskan. 

Masyarakat merasa tidak bebas dengan adanya imbauan pemerintah tersebut. Daerah-daerah yang sudah terdampak Covid-19 dari zona darurat menjadi zona tanggap darurat.  Artinya,  Covid-19 sudah terjangkit lebih banyak.

Di Papua, pemerintah telah menetatpakn situasi darurat dimana kini menjadi tanggap darurat. Pemerintah setempat melakukan PSBB, dengan membatasi waktu aktivitas masyarakat mulai dari jam 07:00-14:00 WIT. Protokoler pemerintah dengan tegas dilaksanakan yang melibatkan pihak keamanan untuk mengatasi penyebaran Covid-19.  Walaupun demikian, pasien Covid-19 tiap harinya terus bertambah hingga sekarang per-25 Mei 2020, ada kasus 637 pasien positif, 448 orang dirawat, 178 orang sembuh dan 11 orang meninggal. Situasi seperti ini rupanya tidak membuat masyarakat takut, melainkan masih banyak masyarakat yang seenaknya berkumpul, tidak mengidahkan protokoler pemerintah, pergi ke tempat-tempat yang sebenarnya sudah menjadi zona merah. 

Tim gugus tugas sudah berjuang susah payah untuk menyelamatkan dan mencegah bertambahnya pasien, namun masyarakat tidak mau peduli, malah melakukan aktivitas sesuka mereka di luar rumah. Masyarakat tidak peduli dengan pihak kesehatan,  para medis, pihak keamanan,    tim gugus tugas dan kepolisian yang telah menjalankan tugas untuk membatasi dan memutuskan mata ratai Covid-19,  dengan melarang orang berkerumunan,  membatasi aktivitas di luar rumah jika tidak ada keperluan yang sifatnya urjen/penting. Masyarakat boleh beraktivitas tapi dengan mengikuti protokoler pemerintah.

Pemerintah melalui tim gugus tugas Covid-19 bersama pihak kepolisian terus melakukan patrol serta mensosialisasikan kepada masyarakat tentang berkerumunan, mengunakan masker. Namun ada saja masyarakat yang masih berkumpul seperti kejadian 25 Mei 2020 lalu di Jayapura, dimana Polisi membubarkan beberapa pemuda dengan mengunakan water cannon, yang menewaskan satu orang. Kejadian ini setidaknya memberikan refleksi bagi kita untuk mematuhi aturan terutama pada masa pandemik ini. Mematuhi aturan,  ikuti imbauan,  ikuti protokoler pemerintah,  adalah demi kesehatan, keselamatan banyak orang, keluarga dan diri kita sendiri. Bila kita patuhi semua ini tentu tidak ada penyebaran Covid-19 ke mana-mana dan tidak ada korban seperti yang terjadi.

Bantuan ;angsung tunai akibat KLB wabah Covid-19 menimbulkan keributan di tengah masyarakat. Masyarakat merasa bantuan yang diberikan oleh pemerintah tidak sesuai dengan harapan mereka. Masyarakat merasa tidak puas dan diperlakukan tidak adil dengan bantuan yang diberikan pemerintah. Masyarakat mengeluh dengan penerimaan bantuan beras 10 kg dan dua bungkus supermie. Lalu muncul pertanyaan “Apakah dengan bantuan seperti itu bisa bertahan selama pandemic ini? Ataukah ada yang salah dalam manajemen pembagian bantuan?”. 

Di Papua masyarakat menerima bantuan KLB pandemik Covid-19, namun ada masyarakat yang mengeluh karena harus bayar uang sebesar Rp. 10.000 ketika hendak menerima bantuan. Tim pembagian bantuan mengatakan uang itu digunakan untuk membayar ongkos angkat dan mobil. Hal menjadi keluhan warga, “Masih ada manusia model ini di tengah musibah seperti ini. Pembagian juga hanya setengah-setengah,  hari ini bantuan yang diberikan berupa gula,  besok baru ambil yang lain lagi seperti beras, supermie dan minyak goreng.”

Baca juga: Mama dan Noken

Masyarakat merasa bantuan yang diberikan oleh pemerintah tidak sesuai dengan harapan dan kebutuhan dalam masa pandemik Covid-19. Beras 10 kg,  minyak goreng setengah liter, supermie satu karton,  apakah ini cukup memenuhi kebutuhan dalam masa pandemik ini. Seharusnya kita bersyukur bahwa pemerintah telah membantu meringankan kebutuhan kita,  walaupun bantuan itu jumlahnya kecil tapi sangat berarti. 

Situasi seperti ini, pihak pemerintah dan masyarakat harus jalan bersama bergandengan tangan melakukan pencegahan dan pemberhentian penyebaran Covid-19 ini.  Kalau di Papua, harus mengunakan empat tungku,  yakni adat, perempuan, pemerintah dan gereja. Adat, gereja dan pemerintah harus berjalan bersama-sama. Garis komando jelas.  Komunitas homogen diatur dalam adatnya masing-masing. Dalam komunitas sedang diatur oleh gereja dan masyarakat luas oleh pemerintah. Gereja dan pemerintah sudah bergerak. Dari pihak pemimpin agama sudah menghimbau seperti yang dihimbaukan oleh pemerintah bahwa perlu jaga jarak sosial,  jaga jarak fisik dan tinggal di rumah serta beribadah di rumah.

Sementara itu dari pihak adat hampir tidak kedengaran.  Ketua adat suku Malind Anim sudah menghimbau soal tatanan dan aturan adat dalam melakukan pencegahan penyakit atau virus dengan cara adat suku Malind Anim. Karena itu perlu kerja sama untuk mendukung pihak  adat,   perempuan, agama dan pemerintah.  Kita memulainya dari rumah, dengan menjaga keluarga kita supaya tetap aman dari incaran Covid-19 dan mengikuti seluruh imbauan, serta turut mendukung pemeritah dalam pencegahan penyebaran Covid-19. (*) 





Share on Google Plus

About Fafruar

0 komentar:

Post a Comment